Apa Benar Tidurnya Orang Berpuasa itu Ibadah? Simak Penjelasan hadist Berikut

shares |

Apa Benar Tidurnya Orang Berpuasa itu Ibadah? Simak Penjelasan hadist Berikut
Apa Benar Tidurnya Orang Berpuasa itu Ibadah? Puasa sering kali dijadikan oleh sejumlah orang untuk bermalas-malasan, bahkan sering dijadikan sejumlah orang untuk enggan beraktivitas dengan alasan lemas dan capek karena puasa.

Sehingga orang-orang tersebut terkadang memilih untuk berdiam diri dan tidur sepanjang hari agar puasa yang tengah dijalani tidak terasa beratnya.

Namun, tidak jarang ditemukan orang-orang yang dari pagi tidur dan bangun di sore harinya menjelang berbuka puasa, saat orang-orang tersebut, dibilang "puasa kok cuman tidur aja, solat gak"

Orang-orang tersebut langsung menanggapi sindiran dengan mengeluarkan sabda nabi Muhammad, " hai kawan, tidur orang puasa itu adalah ibadah".

Yang jadi pertanyaan benarkah, tidur orang puasa itu ibadah?

Dilansir sejumlah berita Islam orang yang berpuasa tetapi menghabiskan waktu siangnya hanya dengan tidur, tentu saja puasanya tetap sah.

Bukankah secara fikih yang membatalkan puasa adalah makan, minum, dan berhubungan badan dengan istri di siang hari?


Meski demikian, sejatinya orang yang berprilaku seperti ini menderita kerugian yang amat besar. Pasalnya, ketika sibuk dengan tidurnya yang terus-menerus itu, dia telah melewatkan banyak sekali kesempatan memperoleh keutamaan Ramadhan.

Bukankah Allah melipatgandakan balasan bagi setiap amal sholeh yang dilakukan sepanjang Ramadhan? Bukankah Allah membuka lebar-lebar pintu-pintu surga? Bukankah sepanjang Ramadhan Allah menutup rapat-rapat pintu-pintu neraka?

Kebaikan apa yang bisa dilakukan orang yang terus-menerus tidur? Pahala apa yang bisa diraih orang berpuasa yang menghabiskan waktu siangnya dengan tidur?

Bagaimana Allah mau melipatgandakan balasan kebaikan, bila tidak secuil pun amal sholeh yang dilakukan oleh orang yang terus-menerus tidur?

Lagi pula, orang berpuasa yang menghabiskan waktu siangnya dengan tidur justru sedang menabung masalah.

Antara lain, secara etika; tidak pantas rasanya orang kok kerjanya tidur terus-terusan. Stempel pemalas akan dengan mudah dilekatkan kepada yang bersangkutan.

Lebih buruk lagi, orang-orang yang di hatinya mehyimpan kebencian terhadap Islam, akan menjadikan kemalasan itu sebagai peluru untuk menghabisi Islam.




Mereka akan menebar stigma, bahwa Islam adalah agama yang menganjurkan malas, atau setidaknya membiarkan kemalasan.

Masalah kedua, secara kesehatan tidur yang terus-menerus juga tidak bagus. Minimal, yang bersangkutan tidak merasa dan terlihat segar. Dia akan tampil dan merasa lesu.

Otot-otot yang tidak digerakkan bisa membahayakan tubuh. Aliran darah tidak lancar, dan seterusnya dan seterusnya.

Ketiga, ini yang tidak kalah penting. Jika orang puasa yang tidur berkepanjangan tadi sampai melewatkan waktu-waktu shalat rawatib (zuhur, ashar apalagi maghrib) maka dia telah bermaksiat terhadap Allah. Mosok, karena bela-belain 'ibadah' dalam tidur, orang ini justru meninggalkan shalat?

Syaikh Ibnu Utsaimin punya jawaban ketika dia ditanya dengan pertanyaan yang sama. Pertanyaan ini mengandung dua masalah.

Pertama, seorang yang tidur seharian dan tidak bangun sama sekali, tidak ragukan lagi bahwa dia telah bermaksiat kepada Allah karena meninggalkan sholat. Maka hendaknya dia bertaubat kepada Allah dan menjalankan sholat tepat pada waktunya.

Kedua, seorang yang tidur tetapi bangun untuk menjalankan sholat kemudian tidur lagi dan seterusnya, hukum orang ini tidak berdosa alias tidak batal puasanya.
'



Hanya saja, dia telah melewatkan banyak kebaikan. Bukankah banyak sekali hadits yang menganjurkan orang yang berpuasa agar menyibukkan dirinya dengan sholat, dzikir, doa, membaca al-quran, bersedekah, dan lainnya. Lewat berbagai amal sholeh tersebut, yang bersangkutan tengah mengumpulkan beraneka macam ibadah pada dirinya.

Seperti ditulis dalam kitabMajmu Fatawa wa Rosail, kepada orang seperti ini, Syaikh Ibnu Utsaimin memberi nasehat agar tidak menghabiskan waktu puasanya dengan banyak tidur. Sebaliknya, hendaklah orang ini bersemangat dalam ibadah).

Bagaimana dengan frase tidurnya orang bepuasa ibadah? Kalimat ini sebetulnya penggalan dari hadits yang lengkapnya begini;

Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, doanya dikabulkan, dan amalannya pun akan dilipatgandakan pahalanya.

Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi dan terdapat di kitabSyuabul Iman. Namun para ulama menyatakan hadits ini derajatnya dhaif alias lemah. Penjelasan lemahnya hadits ini disampaikan Al Hafidz Al Iraqi dalamTakhrijul Ihya. Begitu juga dengan Syaikh Al Albani, beliau mendhaifkan hadits ini dalamSilsilah Adh Dhaifah.

Ada lagi hadits yang bermakna serupa, yaitu:

Orang yang berpuasa itu senantiasa dalam ibadah meskipun sedang tidur di atas ranjangnya.



Tapi menurut Syaikh Al Albani diSilsilah Adh Dhaifah, hadits yang diriwayatkan Tammam ini juga dhaif.

Islam memandang tidur dalam hukum asal setiap perbuatan, yaitu perkara mubah (boleh). Tidur juga bukan ritual ibadah.

Namun sebagaimana perkara mubah yang lain, tidur dapat bernilai ibadah jika diniatkan sebagai sarana penunjang ibadah.

Dengan demikian tidak setiap tidur orang berpuasa itu bernilai ibadah. Sebagai contoh, tidur karena malas, atau tidur karena kekenyangan setelah sahur.

Keduanya, tentu tidak bernilai ibadah. Bahkan tidur yang seperti ini bisa dinilai sebagai tidur yang tercela.

Related Posts