Tak Ada Lagi Tiket Murah

shares |

Tak Ada Lagi Tiket Murah - KEMENTERIAN Perhubungan (Kemenhub) memastikan bahwa dengan kebijakan baru mengenai penetapan tarif bawah 40 persen dari tarif batas atas, maskapai domestik tidak ada yang menjual tiket di bawah Rp 500 ribu.

Direktur Angkutan Penerbangan Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub Mohammad Alwi mengatakan, usai diberlakukannya kebijakan baru ini pada 30 Desember 2014, tidak ada satu pun maskapai yang menjual tiket di bawah Rp 500 ribu.

"Dari tanggal 1 (Januari) sampai sekarang itu enggak ada yang jual tiket di bawah Rp 500 ribu," kata Alwi di Kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Kamis (8/1).

Alwi mencontohkan, untuk penerbangan dari Jakarta menuju Surabaya menggunakan Pesawat Boeing 737-800 dengan penerbangan sekira satu jam ditaksir tarif batas atasnya sekira Rp 1,6 juta.

Jika dihitung dengan kebijakan baru ini, sambung Alwi, maka 40 persen tarif batas bawah dari tarif batas atas rute penerbangan tersebut sekira Rp 600 ribu.

"Mau kasih sanksi bagaimana, normalnya itu memang sudah di atas Rp 500 ribu. Saya mau ke Surabaya saja sudah Rp 700 ribu. Tidak ada yang di bawah Rp 500 ribu," pungkasnya.

Murah Berlaku Sejak 1 Januari

Mohammad Alwi menambahkan, implementasi penetapan kebijakan baru ini sudah berlaku usai mendapatkan tanda tangan dari Menteri Perhubungan Ignasius Jonan.

"Implementasi berlaku sejak ditandatanganinya tanggal 30 Desember 2014," kata Alwi di Kementerian Perhubungan, Jakarta, Kamis (8/1).

Bahkan dirinya menyebutkan, beberapa hari yang lalu telah melakukan sosialisasi ke seluruh maskapai domestik mengenai penerapan kebijakan yang baru ini.

"Sejak 3 hari lalu saya sudah sosialisasi ke maskapai berjadwal tak berjadwal. Nanti dari para maskapai menyesuaikan," tambahnya.

Sementara itu, Alwi mengungkapkan bahwa kebijakan baru tersebut sebagai upaya pemerintah dalam meningkatkan sistem keselamatan pada setiap penerbangan di domestik.

"Jadi perubahan Peraturan Menteri dari 51 jadi 91 2014, jadi Desember kemarin perubahan itu tidak ada hubungannya dengan kejadian AirAsia," tukas dia.
Kemenhub menegaskan, penetapan tarif batas bawah 40 persen dari batas atas bukan karena unsur bisnis melainkan peningkatan keselamatan.

"Jadi harus dipahami bersama, jadi jangan diartikan dicampur di dunia bisnis. Jadi safety yang paling utama, sepertinya memang kita tidak ingin membuat risiko terhadap nyawa orang," kata Kepala Pusat Komunikasi Kementerian Perhubungan JA Barata di Kementerian Perhubungan, Jakarta, Kamis (8/1).

Bahkan dirinya juga mengatakan bahwa Kementerian Perhubungan dengan kebijakan baru ini tidak untuk mematikan penerbangan berbiaya rendah atau low cost career (LCC).

"Kita tidak akan menghapus LCC atau apa yang membingungkan masyarakat, istilah itu mungkin ada di dunia bisnis, jadi dari awal perhubungan tidak menggunakan bahasa LCC, tetapi menetapkan batas bawah itu 40 persen," tambahnya.

Menurut Barata, penetapan kebijakan baru ini merupakan sebagai upaya pemerintah membuat para maskapai penerbangan di Indonesia meningkatkan keselamatan.

"Jadi ini penting apa yang disampaikan, kita lebih baik tidak pernah berangkat daripada kita tidak pernah tiba," tukas dia.

Alwi kembali menambahkan, penerapan aturan tarif ini juga dilihat dari peningkatan biaya-biaya operasional yang sangat tergantung dengan kurs dolar.

"Seperti fuel sendiri itu sudah 32 persen, ada sewa pesawat, asuransinya, pemakaian pelumas dan oli, dan pemeliharaan pesawat yang kontennya 20 persen dan jasa bandara, dan juga dengan komponen yang ada, terdiri 80 persen itu memakai kurs dolar," tambahnya.

Sementara itu, sambung Alwi, pengubahan penjualan tarif tiket ini merupakan salah satu upaya agar para maskapai dapat memenuhi komponen-komponen perawatan yang meningkatkan keselamatan dari yang sebelumnya.

"Tujuannya adalah untuk aspek keseimbangan itu, jadi harus mengikuti, karena pesawat itu seperti fuel dan maintenance tidak bisa dilewati, oleh karena itu pemerintah menyesuaikan dengan kondisi dan situasi saat ini untuk melakukan pengawasan di industri penerbangan, lalu menjaga keseimbangan dan keberlanjutan pesawat sendiri," tutupnya.

Related Posts