Mulyadi MN : Executive Sous Chef Aston Hotel dan Convention Center Samarinda

shares |

Jadi chef ternama tak mudah. Tak tiba-tiba muncul kemudian kesohor seperti di televisi. Setidaknya, inilah yang dialami Executive Sous Chef Aston Hotel dan Convention Center Samarinda, Mulyadi MN.

PRIA kelahiran Nanggroe Aceh Darussalam mengawali pekerjaannya di dunia memasak sebagai dishwasher atau tukang cuci piring di Accor Group, Restoran Ibis, Cikarang Jakarta. “Ketika itu saya tidak punya pilihan lain, selain bekerja di dapur sebagai pencuci piring,” ungkapnya.

Memiliki kesempatan bekerja di restoran, Mulyadi mencoba mempelajari banyak hal termasuk mengikuti pelatihan memasak, yang kemudian membuatnya mencintai dunia kuliner.

Bagi ayah tiga anak ini, berkarier adalah sebuah proses belajar untuk menjadi lebih baik. Berada sampai level tertinggi pun orang tidak akan pernah berhenti belajar. “Kalau di bidang yang saya jalani, kritik dari customer itu sangat penting. Karena itu adalah sebuah pelajaran untuk memperbaiki cara kerja,” ujar kelahiran 24 Januari 1973 ini.

“Saya pernah dimaki-maki di depan orang banyak karena salah memasak. Sebagai manusia saya memang tidak terima tapi sebagai chef tetap harus bisa menerima kritik,” jelasnya. Mulyadi mengatakan, menjadi seorang chef memiliki tanggung jawab besar kepada customer. Chef wajib mengetahui cara menjaga kualitas makanan agar aman dikonsumsi. Aman secara bahan dan cara mengolah makanan.

“Makanan yang aman itu harus higienis. Bersih saja belum tentu higienis, tapi higienis sudah pasti bersih,” tuturnya. “Saya memasak untuk customer. Tidak bisa dibayangkan kalau ada ibu, bapak, dan anak-anak yang tiba-tiba sakit setelah makan masakan saya. Bebannya berat sekali,” lanjutnya.

Mulyadi mengakui, dunia kuliner sangat unik. Sebuah masakan bisa berubah rasanya dari kekhasan. Dinamisnya makanan mengikuti perkembangan masa, ada banyak bahan pengganti yang rasanya berbeda dengan dulu.

Contohnya, kata dia, soto banjar. Dulu bahan yang dipakai adalah biji kenari tapi karena sulit dicari, akhirnya yang digunakan adalah kemiri.

Ciri makanan itu dari rasa. Semua bahan dasar masakan Indonesia itu sama. Putih dari kemiri, kuning dari kunyit, dan merah dari cabe. Tinggal ditambah bahan-bahan tertentu untuk mencirikhaskan makanan yang ingin dibuat.“Kalau mau masak kari, ya tinggal tambahkan bumbu kari,” ujar Mulyadi.

Menurut dia, memang lumayan sulit membuat masakan dengan rasa yang autentik, tapi seorang juru masak bisa membuat makanan yang menggugah selera dengan memainkan warna masakan, rasa gurih, asin, dan manis.

PENASARAN MAHAKAM

Chef yang belum genap sebulan tinggal di Samarinda ini mengaku sangat penasaran dengan Jembatan Mahakam. Tahun 2002 dia pernah ke Balikpapan dan ke Bontang melewati Jembatan Mahakam, sayangnya tidak memiliki kesempatan untuk jalan-jalan di Kota Tepian.

“Saya penasaran sekali dengan Jembatan Mahakam, bagaimana cara membangunnya. Ketika saya kembali ke Jakarta saya berpikir ingin kembali ke Samarinda, mau lihat jembatan lebih dekat,” kisah anggota Indonesian Chef Association (ICA) ini.

“Pikiran itu ‘kan doa, ketika ada tawaran bekerja di Hotel Aston Samarinda, langsung saya ambil. Sekarang saya sudah lihat jembatan, dan penasaran saya terbayar,” tuturnya.

Bisa bekerja dari satu pulau ke pulau lain, dari Sumatra, Jawa, Bali, Lombok, dan Kalimantan, Mulyadi mengatakan banyak mendapatkan pengalaman seperti bertemu teman dan tempat baru, serta bisa mengenal masakan khas di setiap daerah yang didatangi.

Dengan belajar mengenal keadaan kota, makanan khas, dan mengetahui cita rasa seperti apa yang disukai orang, ini membantunya berinovasi untuk mengubah masakan baru.

Related Posts