• Mengapa Kompas Membenci Prabowo? oleh : Faizal Assegaf

    Mengapa Kompas Membenci Prabowo? oleh : Faizal Assegaf

    Mengapa Kompas Membenci Prabowo? oleh : Faizal Assegaf
    Uskup Belo dan mantan Panglima ABRI Jenderal (Purn) LB Moerdani bagi Kompas adalah pahlawan. Kedua tokoh Katolik tersebut di mata para misionaris Vatikan di puja-puji, lantaran dianggap paling berjasa mengemban “politik Katedral” di Indonesia.

    Uskup Belo adalah tokoh sentral Katolik yang berdiri di garis terdepan dalam pelepasan Propinsi Timor-Timur dari wilayah NKRI di tahun 1999. Melalui sokongan mitra internasional, Uskup Belo dan rekan-rekannya memprovokasi mayoritas ummat Katolik di Timor-Timur untuk membangun negara merdeka: Republik Timor Leste.

    Uskup Belo: “Lebih baik membawa mayoritas Katolik Timor-Timur lepas dari NKRI dari pada bergabung dengan ummat Islam dalam kebhinekaan Indonesia…”.

    Misi membara dan penuh kebencian itu berujung pada tragedi berdarah. Ribuan masyarakat yang sebagian besar berasal dari Pulau Jawa, yang bertahun-tahun menetap di Timor-Timur dibantai dan diusir secara tidak manusiawi.

    Namun fakta paling mengerikan tersebut ditutup rapat oleh Kompas dan jaringan media asing. Celakanya, justru Uskup Belo dan para tokoh separatis Timor-Timur secara terang-terangan oleh Kompas dicitrakan sebagai pejuang kemanusiaan. Serupa dengan sikap Kompas melindungi kejahatan perampokkan uang negara ratusan triliun rupiah yang melibatkan pengusaha non pribumi dalam megakasus BLBI.

    Kisah separatisme ala Uskup Belo tak berbeda dengan apa dilakukan oleh Jenderal (Purn) LB Moerdani. Modus kejahatannya tidak lepas dari misi “politik Katedral”. Yakni, Uskup Belo berperan memperjuangkan disintigrasi dengan mengusir ummat Islam dari bumi Timor-Timur. Sedangkan LB Moerdani meciptakan “disintegrasi politik” (adu domba) antara ummat Islam dan TNI melalui kasus pembantaian jamaah pengajian di Jakarta Utara tahun 1984, yang kemudian dikenal dengan “tragedi berdarah Tanjung Priok”.

    Ketidakadilan yang menimpa ummat Islam di Tanjung Priok memicu reaksi dari berbagai kalangan. Dan secara khusus menimbulkan kegusaran para Jenderal ABRI (TNI), menuding LB Moerdani telah melakukan manuver politik untuk tujuan menggulingkan Presiden Soeharto. Dan sekali lagi, tak ada satu pun berita Kompas yang menyebut bahwa LB Moerdani terlibat pelanggaran HAM.

    Ironi, bila tokoh-tokoh Katolik yang melakukan pelanggaran HAM dengan membantai ummat Islam, Kompas dan mitra pers internasionalnya pasti bersikap membungkam. Termasuk kasus Jenderal Katolik Kolonial Belanda Westerling, yang membantai lebih dari 40 ribu ummat Islam di Sulawesi tahun 1946 – 1947, kejahatan itu tidak pernah disuarakan oleh Kompas sebagai pelanggaran HAM berat.\

    Mengapa Kompas Membenci Prabowo?

    Isu pelanggaran HAM selalu ditiupkan oleh Kompas dan jaringannya pada saat menjelang pemilu. Sasarannya untuk menghancurkan citra para figur mantan Jenderal yang memiliki hubungan kuat dengan ummat Islam. Sebut saja, Prabowo Subianto merupakan korban utama dari rekayasa opini Kompas tersebut.

    Lebih memprihatinkan, serangan Kompas kepada mantan Komandan Kompasus, dilakukan lewat jaringan media internasional. Melalui serangkaian isu pelanggaran HAM, Prabowo dikesankan sebagai sosok Jenderal yang bringas, bengis dan terlibat dalam berbagai kasus pembantaian berdarah.
    Tudingan-tudingan menyesatkan itu tidak lain, dimunculkan untuk menghadang pengaruh Prabowo di arena politik. Sangat kasar dan mencolok sikap Kompas menaburkan kebencian dengan menghasut publik untuk menempatkan Prabowo sebagai musuh bersama. Cara busuk itu tidak muncul begitu saja, namun ada ihwal terselubung.

    Prabowo adalah satu-satu figur Capres yang konsisten bersuara memperjuangkan hak-hak ekonomi pribumi. Dengan lantang, Prabowo menegaskan setiap tahun lebih dari seribu triliun uang rakyat digelapkan. Pelakunya tidak lain adalah koruptor kakap dan para cukong (konglomerat hitam) yang belakangan terungkap membacking pencapresan Jokowi.

    Sikap Prabowo yang terbuka dan berani, menimbulkan kepanikan di kalangan cukong dan kelompok pro Neo Liberal. Maka tak heran, Kompas pun tampil melakukan serangan balik melalui isu-isu pelanggaran HAM. Namun, tampaknya rakyat sudah makin cerdas dan mulai paham dengan rekayasa media jaringan Katolik tersebut.
    -GebrakNews -